Kamis, 07 Januari 2010

MENGAPA KITA MEMBUTUHKAN TEORI MARXIS?

Butuh teori? Untuk apa? Kita tahu ada krisis. Kita tahu kita dirampok oleh majikan-majikan kita. Kita tahu kita semua marah. Kita tahu kita membutuhkan sosialisme. Lalu apa? Teori? Teori adalah jatahnya kaum intelektual semata!

Saudara sering mendengar kata-kata seperti itu baik dari kaum sosialis militan maupun kaum serikat buruh. Ironis. Sebab pandangan-pandangan seperti itu sangat didukung oleh kaum anti-sosialis. Sebabnya jelas, mereka berupaya memberi kesan bahwa Marxisme adalah sebuah ajaran yang tidak jelas, rumit, dan membosankan. Kata mereka, idea-idea sosialis itu “abstrak”. Mungkin saja idea-idea itu benar dalam teori, tetapi dalam kehidupan nyata … akal sehat memberitahu kita sesuatu yang berbeda sama sekali!

Ada problem dengan argumen-argumen tersebut: orang-orang yang mengemukakannya biasanya memiliki suatu “teori” tertentu. Ya, teori mereka sendiri. Bahkan sekalipun misalnya mereka menolak untuk mengakuinya! Ajukanlah kepada mereka pertanyaan tentang masyarakat, dan mereka akan berusaha menjawabnya dengan generalisasi yang ini atau yang itu. Contohnya:

“Menurut kodratnya, manusia itu serakah.”
“Siapapun dapat mencapai puncak jika berusaha cukup keras.”
“Bila bukan karena orang kaya, tidak akan ada uang, tidak akan ada pula lapangan pekerjaan untuk sebagian besar dari kita.”
“Bila saja kita dapat mendidik para pekerja, masyarakat akan berubah.”
“Kemerosotan moral telah membuat negeri kita jadi runyam seperti ini.”

Perhatikanlah argumen yang kerap kita dengar di jalan-jalan, di dalam bus-bus kota, di kantin-kantin. Saudara akan mendengar lusinan perkataan seperti itu. Setiap perkataan memuat suatu pandangan tentang mengapa masyarakat jadi seperti sekarang dan tentang bagaimana orang-orang dapat memperbaiki keadaan mereka. Pandangan-pandangan itu semuanya adalah “teori-teori” tentang masyarakat. Ketika orang-orang berkata bahwa mereka tidak mempunyai teori apapun, sesungguhnya mereka bermaksud mengatakan bahwa mereka tidak atau belum mengklarifikasi pandangan-pandnagan mereka.

Secara khusus ini berbahaya bagi siapa pun yang sedang berupaya mengubah masyarakat. Sebab surat-surat kabar, radio, TV, dsb., semuanya terus-menerus mengisi pikiran kita dengan penjelasan-penjelasan tentang problem-problem masyarakat. Tentu saja kita diharapkan untuk menerima apapun yang mereka katakan tanpa berpikir lebih lanjut tentang problem-problem tersebut.

Tapi Saudara tidak dapat bertarung secara efektif untuk mengubah masyarakat kecuali Anda menyadari apa yang salah di dalam semua argumen yang berbeda-beda itu.

Pertama kali hal ini nampak sekitar satu atau dua abad yang lalu. Pada tahun-tahun 1830-an dan 1840-an, perkembangan industri di kawasan-kawasan seperti barat-laut Inggris telah menarik ratusan ribu laki-laki, perempuan, dan anak-anak ke dalam pekerjaan-pekerjaan dengan imbalan penderitaan. Mereka terpaksa menanggung kondisi-kondisi hidup yang luar biasa memprihatinkan. Mereka mulai balik melawannya melalui organisasi-organisasi massa pekerja yang pertama: serikat-serikat buruh yang pertama, dan di Inggris gerakan pertama untuk hak-hak politik para pekerja. Bersama dengan gerakan-gerakan ini ada kelompok-kelompok kecil pertama dari orang-orang yang berdedikasi untuk memenangkan sosialisme.

Problem segera muncul: bagaimana gerakan para pekerja dapat mencapai tujuannya?

Menurut beberapa orang, mungkin saja kita meyakinkan para penguasa masyarakat supaya mereka mengubah keadaan yang tidak adil itu melalui sarana-sarana damai. “Kekuatan moral” dari sebuah gerakan massa yang damai akan memastikan bahwa keuntungan-keuntungan akan diberikan kepada kaum pekerja. Ratusan ribu orang diorganisir, berdemonstrasi, dan bekerja untuk membangun sebuah gerakan yang didasarkan pada pandangan-pandangan seperti itu. Hasilnya adalah kekalahan dan demoralisasi!

Beberapa orang lainnya mengakui perlunya menggunakan “kekuatan fisik”. Tapi mereka berpikir bahwa ini “kekuatan fisik” ini harus dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil dan konspiratorial yang terpisah dari masyarakat. Pandangan ini membuat puluhan ribu pekerja masuk ke dalam perjuangan-perjuangan yang juga berakhir dengan kekalahan dan demoralisasi!

Beberapa orang lainnya lagi percaya bahwa kaum pekerja dapat mencapai tujuan-tujuan mereka dengan aksi-ekonomik, tanpa berkonfrontasi dengan tentara dan polisi. Pandangan ini pun menyebabkan aksi-aksi massa. Di Inggris, pada tahun 1842, pemogokan yang pertama di dunia terjadi di kawasan-kawasan industrial di sebelah utara. Puluhan ribu orang mogok selama empat minggu, sampai akhirnya mereka dipaksa kembali bekerja oleh kelaparan!

Menjelang akhir tahap pertama dari perjuangan-perjuangan yang keok itu, sosialis Jerman Karl Marx (1848) mencetuskan idea-ideanya dalam pamflet, Communist Manifesto. Idea-ideanya tidak lahir di ruang hampa. Idea-idea itu berupaya menyediakan suatu basis untuk menggumuli semua pertanyaan yang telah diajukan oleh gerakan kaum pekerja pada waktu itu.

Idea-idea yang dikembangkan Marx masih relevan hari ini. Beberapa orang memang terlalu tergesa-gesa untuk mengatakan bahwa idea-idea tersebut sudah usang karena Marx menuliskannya lebih dari 150 tahun yang silam. Faktanya, semua keyakinan tentang masyarakat yang dikritisi Karl Marx masih sangat luas berterima. Sebagaimana kaum Chartis berargumen tentang “kekuatan moral” atau “kekuatan fisik”, kaum sosialis masa kini berargumen tentang “jalan parlementer” atau “jalan revolusioner”. Di antara mereka yang mengaku revolusioner argumen yang mendukung atau menentang “terorisme” masih hidup sebagaimana halnya pada tahun 1848.

Kaum Idealis

Marx bukan orang pertama yang berupaya menggambarkan apa yang salah dengan masyarakat. Pada waktu ia menulis, penemuan-penemuan baru dalam kepabrikan telah mendatangkan kekayaan dengan skala yang tak terbayangkan oleh generasi-generasi sebelumnya. Nampaknya untuk pertama kalinya umat manusia memiliki sarana-sarana untuk mempertahankan dirinya terhadap bencana-bencana alam yang telah mendatangkan kesengsaraan selama berabad-abad.

Sayangnya, ini bukan berarti perbaikan dalam kehidupan sebagian terbesar orang. Justru kebalikannya. Para laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang tergiring ke pabrik-pabrik baru telah menjalani hidup yang jauh lebih buruk daripada kehidupan yang dijalani oleh nenek moyang mereka yang harus memeras keringat mengerjakan tanah. Upah mereka hanya nyaris menaruh mereka above the bread line; pengangguran massal yang kerap kali terjadi membuat mereka jatuh ke bawah garis tersebut. Mereka terjerumus ke pemukiman-pemukiman kumuh yang sangat buruk dan kotor. Tanpa sanitasi yang memadai, mereka menjadi korban wabah penyakit yang mengerikan. Alih-alih mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan umum, perkembangan peradaban memunculkan penderitaan yang lebih besar!

Bukan hanya Marx yang mencatat hal ini, tetapi juga beberapa pemikir besar pada zaman itu: orang-orang seperti penyair-penyair Inggris Blake dan Shelley, orang-orang Prancis Fourier dan Proudhon, serta para filsuf Jerman Hegel dan Feuerbach.

Hegel dan Feuerbach menggunakan istilah alienasi untuk menggambarkan keadaan tidak bahagia yang di dalamnya umat manusia menemukan dirinya. Umat manusia terus-menerus menemukan diri mereka dikuasai dan ditindas oleh apa yang telah mereka perbuat di masa lalu. Feuerbach menjelaskan: manusia telah mengembangkan idea tentang Allah, kemudian menyembahnya; ia menyembah “Allah” dengan digelayuti rasa sesal dan berdosa; sebab, ia tidak dapat memenuhi tuntutan-tuntutan “ilahi” yang sebenarnya telah dibuatnya sendiri. Semakin maju masyarakat, semakin sengsaralah orang-orang yang teralienasi itu.

Dalam tulisan-tulisannya yang paling awal, Marx mengambil konsep tentang “alienasi” ini dan menerapkannya pada kehidupan orang-orang yang menciptakan kekayaan masyarakat:

Si pekerja menjadi semakin miskin, sementara kian banyak kekayaan yang dihasilkannya; semakin besar daya dan tingkatan produksinya ... Meningkatnya nilai dunia-benda terjadi dalam perbandingan-langsung dengan merosotnya nilai dunia-manusia ... Obyek yang dihasilkan oleh kerja mengkonfrontirnya sebagai sesuatu yang asing, sebagai suatu kekuatan yang independen dari si produsen …

Pada zaman Marx, penjelasan yang populer tentang “apa yang salah” dengan masyarakat masih bercorak religius. Menurut penjelasan itu, kemalangan masyarakat disebabkan oleh kegagalan umat dalam melaksanakan kehendak Allah. Andai saja kita semua “menanggalkan dosa”, segala sesuatu akan berjalan dengan baik.

Pandangan yang serupa masih sering kita dengar sampai sekarang. Memang coraknya tidak selalu religius. Misalnya klaim yang mengatakan: “Untuk mengubah masyarakat, Anda pertama-tama harus mengubah dirimu sendiri.” Andai saja tiap-tiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, dapat menjaga diri mereka dari “keserakahan” atau “sikap materialistis”, secara otomatis masyarakat akan menjadi lebih baik.

Senada dengan itu adalah pandangan berikut: yang penting bukan mengubah setiap orang atau semua individu dalam masyarakat, tetapi mengubah segelintir “orang kunci”, yakni orang-orang yang menjalankan kekuasaan dalam masyarakat. Gagasan dasariahnya, membuat kaum yang kaya dan yang berkuasa “melihat kebenaran”. Contohnya adalah Robert Owen, seorang sosialis Inggris. Owen mulai dengan upaya meyakinkan kaum industrialis bahwa mereka harus memperlakukan para pekerja mereka dengan lebih baik. Pandangan yang sama masih dominan sampai sekarang di kalangan para pemimpin Partai Buruh Inggris. Tidak terkecuali sayap kirinya. Mereka selalu menyebut kejahatan-kejahatan para majikan hanya sebagai “kekeliruan-kekeliruan” (mistakes). Seakan-akan sedikit argumen akan mempengaruhi bisnis-bisnis besar untuk mengendurkan cengkraman mereka terhadap rakyat jelata.

Marx menyebut pandangan-pandangan itu “idealis”. Tentu ia tidak menentang orang-orang yang mempunyai “idea-idea”. Persoalannya, pandangan-pandangan itu mengasumsikan bahwa idea-idea terpisah dari kondisi-kondisi obyektif yang di dalamnya rakyat hidup. Padahal, idea-idea secara erat terkait dengan corak kehidupan tertentu. Contohnya, “kepentingan diri sendiri” (selfishness). Dewasa ini masyarakat kapitalis membiakkan selfishness, bahkan di kalangan orang-orang yang memiliki kecenderungan untuk mengutamakan orang lain. Seorang pekerja yang ingin melakukan yang terbaik untuk anak-istrinya, atau memberikan tunjangan kepada orang tua mereka, mengerti bahwa satu-satunya cara adalah terus bertarung dengan orang lain: untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik, waktu lembur yang lebih banyak, atau menjadi yang pertama untuk mendapatkan pekerjaan tambahan. Dalam corak kehidupan seperti itu, Saudara tidak bisa menyingkirkan “kepentingan diri sendiri” atau “keserakahan” hanya dengan mengubah pemikiran orang-perorang.

Lebih menggelikan adalah pandangan yang ingin mengubah masyarakat dengan mengubah idea-idea “orang-orang top”. Andaikan Saudara berhasil memenangkan seorang boss besar bagi idea-idea sosialis; kemudian ia berhenti mengeksploitir para pekerja. Apa yang akan terjadi? Boss itu akan mengalami kekalahan dalam persaingan dengan boss-boss pesaingnya, bahkan tersingkir dari percaturan bisnis. Bahkan berkenaan dengan orang-orang yang memangku kekuasaan dalam masyarakat, problemnya bukanlah idea-idea. Alih-alih, problemnya adalah struktur masyarakat yang di dalamnya para pemimpin itu berpegang pada idea-idea tertentu.

Poin ini dapat dikemukakan dengan cara lain. Bila idea-idea adalah pengubah masyarakat, dari manakah idea-idea itu berasal? Kita hidup di dalam suatu jenis masyarakat tertentu. Idea-idea yang dikemukakan melalui surat kabar, televisi, sistem pendidikan, dsb., membela jenis masyarakat tersebut. Bagaimana seseorang pernah sanggup untuk mengembangkan suatu idea yang sepenuhnya berbeda? Karena pengalaman-pengalaman keseharian mereka bertentangan dengan idea-idea resmi masyarakat kita.

Sebagai contoh, Saudara tidak dapat menjelaskan mengapa jauh lebih sedikit orang yang religius sekarang daripada seratus tahun yang lalu hanya dengan merujuk pada keberhasilan propaganda ateistik. Anda masih harus menjelaskan mengapa orang mendengarkan idea-idea ateistik dengan cara yang tidak mereka lakukan seratus tahun yang lalu.

Serupa dengan itu, bila Saudara ingin menjelaskan dampak “orang-orang besar”, Saudara harus menjelaskan mengapa orang-orang lain setuju untuk mengikut mereka. Tidak tepat mengatakan, misalnya, Napoleon atau Lenin telah mengubah sejarah, tanpa menjelaskan mengapa jutaan orang bersedia melakukan apa yang mereka anjurkan. Padahal, mereka bukanlah para penghipnotis massa. Sesuatu dalam hidup masyarakat pada titik tertentu menyebabkan orang-orang untuk merasa bahwa apa yang mereka anjurkan benar adanya.
Saudara hanya dapat memahami bagaimana idea-idea mengubah sejarah bila Saudara memahami dari mana idea-idea itu datang dan bagaimana orang-orang menerimanya. Itu berarti menelisik menembus idea-idea menuju kondisi-kondisi material masyarakat yang di dalamnya idea-idea itu muncul. Itu sebabnya Marx menegaskan: “Bukanlah kesadaran yang menentukan keberadaan, tetapi keberadaan sosial yang menentukan kesadaran.” *** (Disadur oleh Rudolfus Antonius)
Sumber:
Chris Harman, How Marxism Works
(London/Chicago/Sydney South: Bookmarks Publications Ltd, c.u. 2000), hlm. 9-13.
Edisi online disiapkan oleh Marc Newman

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar